HIKMAH ISRA’ MI’RAJ

  • Whatsapp

Bagi kaum Sufi pengalaman Nabi Muhammad SAW dalam Isra dan Mi’raj dijadikan sebagai contoh pengalaman ruhani tertinggi, pengalaman yang sangat menggembirakan dan hanya bisa dirasakan oleh sang empunya pengalaman.

Dalam salah satu sabdanya Nabi Muhammad SAW menggambarkannya sebagai “Sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata, tak terdengar oleh telinga, dan tak terbersit dalam hati manusia.”

Bagaikan rasa manis madu, seseorang tidak akan pernah bisa merasakannya tanpa mencicipi sendiri. Sebab dalam musyahadah itu, segala rahasia kebenaran tersingkap (Kasyf) untuk sang hamba, dan sang hamba pun lebur dan sirna (fana’) dalam Kebenaran.

Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw, sebagai kaki pijak tujuan tasawuf. Kendati riwayat tentang Isra dan Mi’raj sangat beragam, namun semuanya bisa disimpulkan bahwa pada intinya Nabi Muhammad Saw pernah diperjalankan oleh Allah dengan perjalanan horizontal (Isra) dan vertikal (Mi’raj).

Dalam perjalanan vertikal inilah Muhammad Saw. menaiki langit (sama’) demi langit hingga sampai ke langit tujuh. Di langit ke tujuh beliau bertatap muka dan berdiskusi dengan Allah, yang akhirnya menghasilkan kewajiban bagi diri dan umatnya salat lima kali dalam sehari semalam.

Dalam dunia tasawuf peristiwa tersebut tidak hanya dijadikan sebagai momen bersejarah yang hampa makna, tapi dijadikan sebagai simbol inspirasi perjalanan mistikus manusia bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan Tuhannya.

Oleh karena itu, penyaksian alam malakut atau tersingkapnya tabir ke-Tuhanan (musyahadah) dalam dunia tasawuf menjadi tujuan akhir pencarian kejernihan jiwa bagi para sufi.

Dalam kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. diungkapkan bahwa beliau bisa bertemu dengan Tuhannya dengan melewati tujuh langit, ini artinya bahwa umatnya juga bisa bermusyahadah dengan Allah tapi harus melalui beberapa maqam (terminal-terminal), atau derajat yang harus dilalui untuk menjadi ‘Arif billah.

Maqam tersebut sangat banyak sekali jumlahnya sebagaimana arti bilangan tujuh yang berarti menunjukkan jumlah tak terhitung. Sebagai sample QS. 2: 261 dan QS. 31: 27, dalam kedua ayat ini kata tujuh tidak diartikan sebagai hitungan eksak dalam arti bilangan tujuh, tapi jumlah yang sangat banyak.

Kendati demikian, maqamat dalam standar sunni jumlahnya ada tujuh, sebagaimana arti literal kata sab’ al-Samawat (tujuh langit). Tujuh terminal tersebut ialah:

1. Taubat, Menurut Dzu al-Nun al-Mishri, taubat terbagi menjadi dua, taubatnya orang awam yaitu taubat dari dosa-dosa dan taubatnya orang khawas, taubat dari lalai kepada Tuhan (ghaflah).

2. Wara’, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang tidak jelas halal dan haramnya. Dalam hal ini seseorang harus selalu mengupayakan dirinya untuk makan sesuatu yang halal.

3. Zuhud, artinya seseorang tidak tamak atau mengharapkan pemberian dari orang lain dan tidak mengutamakan kesenangan dunia.

4. Fakir, seseorang di dalam hatinya tidak boleh merasa memiliki sesuatu dan merasa sangat membutuhkan Allah.

5. Sabar, dalam menghadapi bencana seseorang harus menyikapinya dengan etika yang baik (husn al-Adab).

6. Tawakkal, hanya berpegang teguh pada Allah sebagai Tuhan yang maha memelihara (Rabb al-‘Alamin).

7. Ridla, hati selalu menerima ketentuan Tuhan (Taqdir) baik manis maupun pahit. Sebagaimana dikatakan Al-Nuri bahwa ridla adalah kegembiraan hati menghadapi “pahitnya ketentuan Tuhan”.

Ibn Khafif menambahkan, ridla juga berarti menyetujui terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya dan yakin bahwa itulah yang terbaik dan diridlai oleh Allah. *** sumber laman facebook al fakir

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.